Home / Humaniora / Ini Alasan Utama Maraknya Perdagangan Manusia di NTT

Ini Alasan Utama Maraknya Perdagangan Manusia di NTT

Bagikan Halaman ini

Share Button
 Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah/Foto: Tempo.co

Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah/Foto: Tempo.co

Jakarta–Maraknya perdagangan manusia di Nusa Tenggara Timur (NTT) disinyalir lantaran kemisikinan yang melanda wilayah bagaian timur Indonesia itu. Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah, mengatakan dengan alasan itu perempuan menjadi sasaran empuk yang dijadikan korban untuk “dilego” ke luar negeri.

“Jadi kalau melihat peta perdagangan orang di Indonesia, terutama yang dikirim ke luar negeri dengan modus buruh migran, itu orang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang peringkat pertama,” ujar Anis dalam acara Bincang Pagi Metro TV, Senin (24/11/2014).

Dia menyayangkan, sampai saat ini belum ada data yang komprehensif dari pemerintah Indonesia, baik Kepolisian maupun Kementerian Pemberdayaan Perempuan sebagai lead utama pemberantasan human trafficking.

Menurut Anis, ada ribuan laporan yang masuk mengenai human trafficking selama lima tahun terakhir. Dengan melihat beberapa shelter KBRI yang ada di Malaysia dan Singapura, kasus human trafficking itu kebanyakan dari NTT.

Baca Juga :  Astaga, Wanita di Kupang Melahirkan Anak Tokek

“Modus yang dilakukan, seperti yang dialami Wilfrida Soik, jadi putus sekolah, upaya luar biasa dari calo yang terorganisir untuk merayu mereka, diajak ke luar negeri, tanpa membawa dokumen apa pun yang mayoritas di bawah umur untuk dibuatkan paspor di Jakarta.

Seperti kasus Wilfrida itu dia umur 17 tahun, tidak lulus hanya kelas 4 SD, dibuatkan dokumen di Jakarta, kemudian modus pemberangkatannya luar biasa, dari NTT, Jakarta-Batam, Batam-Singapur, Singapur-Johor, Johor-Kelantan, jadi proses eksploitasinya sangat terorganisir,” tegasnya.

Anis memperkirakan, kasus human trafficking melibatkan tidak hanya calo yang ada di wilayah NTT namun juga sindikat internasional. Sehingga pengungkapan kasus human trafficking sangar rumit, seperti kasus Wilfrida di tahun 2011, sampai saat ini calonya masih Daftar Pencarian Orang (DPO). Jadi sangat aneh, padahal yang merekrut sudah ada, terus yang menerima Wilfrida bekerja sudah ada. Namun, kenapa calonnya masih DPO sampai hari ini.

Baca Juga :  Kalimantan Barat Belajar Penanganan Konflik Agama di NTT

Selain itu kata Anis sulitnya pengungkapan juga diduga di-backing dari kepolisian cukup kuat dalam apalagi kasus human trafficking ini sudah berpuluh-puluh tahun. Apa yang dilakukan Brigpol Rudy Soik merupakan breaking silence, jadi memecah kesunyian yang selama ini sudah terjadi.

“Selama ini tuh ada pembiaran karena kasus traficking itu ada, korbannya ada, tetapi pelakunya tidak terungkap secara komprehensif, paling berhenti di calo secara individual, tetapi jaringan yang besar yang punya badan hukum PJTKI, agen di luar negeri dan penyalur yang lain, itu tidak tersentuh oleh hukum, karena ada dugaan dari backup penegak hukum ditingkat lokal, provinsi maupun nasional bahkan internasional,” paparnya.(sumber: metrotvnews.com)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda