Home / Bisnis / Harga Beras di Petani NTT Mulai Naik

Harga Beras di Petani NTT Mulai Naik

Ilustrasi /Foto: Gamaliel
Ilustrasi /Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat harga beras kualitas premium, medium, dan rendah di tingkat penggilingan pada September 2017 naik jika dibandingkan dengan Agustus 2017.

Beras premium menjadi Rp10.000 per kilogram (kg) dari harga Rp9.000 per kg atau naik sebesar 12,22%.
Selanjutnya beras medium naik dari Rp8.900 per kg menjadi Rp9.100 per kg (2,24%), dan beras kualitas rendah naik menjadi Rp8.900 per kg dari harga Rp8.750 per kg (1,71%).

Selain itu harga gabah di tingkat petani juga mengalami peningkatan sebesar 5,12% yakni dari harga Rp4.875 per kg pada Agustus menjadi Rp5.125 pada September, sedangkan di penggilingan, harga gabah naik mencapai 4,81% dari harga Rp5.200 per kg menjadi Rp5.450 per kg.

Baca Juga :  Dampak Pelemahan Rupiah di NTT Minim

Kepala BPS NTT Maritje Pattiwaellapia mengatakan penaikan harga beras di tingkat petani tidak ada kaitannay dengan penetapan harga eceran tertinggi (HET) beras oleh Kementerian Perdagangan.

“BPS mencatat harga beras di lapangan, memang ada komitmen dari pemerintah untuk menetapkan satu harga beras tetapi sampai saat ini juknisnya belum turun,” kata Maritje dalam jumpa pers di Kantor BPS NTT, Senin (2/10).

Seperti diketahui, Kementerian Perdagangan menetapkan HET beras premium untuk wilayah NTT sebesar Rp13.300 per kg, dan beras medium sebesar Rp9.950 per kg.

Namun HET beras jenis premium yang ditetapkan pemerintah masih jauh di bawah harga beras di petani. Hal yang sama juga terjadi pada beras medium.

Baca Juga :  Beburu Kue Murah di Pasar Ramadan Kupang

BPS juga mencatat nilai tukar petani (NTP) juga mengalami penaikan sebesar 0,66% pada September dibandingkan dengan Agustus 0,36%. “Hal ini menunjukkan kesejahteraan petani cenderung naik disebabkan biaya produksi pertanian dan kebutuhan sehari-hari rumah tangga petani naik tapi masih lebih rendah dibandingkan penerimaan petani,” ujarnya.(mi)

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda