Home / Nasional / Fary: Harapan untuk Berubah Ada di Kampung

Fary: Harapan untuk Berubah Ada di Kampung

fary-di-alor

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kalabahi–Ketua Komisi V DPR Fary Francis mengunjungi Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (8/10/2016).

Kunjungan tersebut untuk melihat dari dekat pembangunan infrastrutktur di daerah itu mulai dari jalan nasional, pembangunan pelabuhan Fery yang menghubungkan Alor-Pantar-Kupang, hingga pengelolaan dana desa.

Turut dalam perjalanan tersebut Ketua DPD Gerindra NTT yang sekaligus calon gubernur NTT dari Partai Gerindra, Esthon Foenay, Wakil Ketua DPRD NTT yang juga putra Alor Gabriel Beri Binna, dan atlet putri asal Alor peraih medali emas PON XIX Jawa Barat 2016, Nur Alit.

“Sebagai wakil rakyat asal NTT yang duduk di komisi infrastruktur dan perhubungan, saya akan terus memperjuangkan beberapa kebutuhan penting di Alor dan Pantar,” ujarnya.

Menurut Fary, sejumlah infrastruktur yang tengah dalam pengerjaaan di Alor dan Pantar, terus dilanjutkan. Pulau Alor merupakan salah satu pulau terluar di Nusa Tenggara Timur.

Kunjungan tersebut diterima oleh Bupati Alor Amon Djobo bersama muspida, dan pengurus KONI setempat.
“Banyak hal yg kami diskusikan dan kami berkomitmen agar negara mesti hadir di Alor dalam setiap persoalan rakyat,” kata Fary.

Baca Juga :  Gubernur Papua Dukung Pemerintah Indonesia Kuasai Saham Freeport

Dari Alor, rombongan kemudian bertemu ratusan anak muda yang terlibat dalam Pertemuan Raya Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) V.

“Sebagai anggota majelis Sinode GMIT saya memiliki tanggung jawab moral dan iman terhadap masa depan kader-kader muda ini. Sebagai wakil rakyat saya bertanggung jawab menjelaskan kepada orang-orang muda ini persoalan bangsa dan sikap kaum muda menyikapinya,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Fary menjelaskan dana desa yang beredar di setiap desa antara Rp600 juta-Rp700 juta per tahun. Dana sebesar itu belum termasuk bantuan dana desa dari pemerintah provinsi dan kabupaten yang mencapai angka yang sama.

Menurutnya, setiap tahun dana yang beredar di kampung sekitar Rp1 miliar-Rp1,5 miliar. “Jika banyak uang sudah beredar di desa, mengapa orang muda harus ramai-ramai ke luar kampung mencari kerja di daerah lain? Harapan untuk berubah ada di kampung,” kata Fary.

Baca Juga :  Cuaca Buruk, ASDP Kupang Tutup Pelayaran Feri

Menurut Fary, desa dan kampung tidak berubah karena mujizat, juga tidak menjadi lebih baik jika hanya menunggu sentuhan orang dari luar. Orang-orang muda adalah masa depan desa dan kampung. Manfaatkan dana desa yang ada di kampung.

Kepada pemuda GMIT, Fary menawarkan sejumlah hal yakni merebut kepemimpinan di desa secara konstitusional, aktif dan terlibat dalam pengelolaan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), terlibat sebagai pendamping atau fasilitator berbagai program pembangunan di desa, dan menjadi enterpreneur muda di kampung.

Pemuda bisa membangun usaha ekonomi produktif di desa karena uang sudah beredar di desa. “Hanya niat dan tekad yang masih kurang. Kita selalu melihat yang di luar kampung lebih baik, padahal harapan itu ada di desa dan kampung kita,” tandasnya. (gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda