Home / Bisnis / Ekonomi NTT Diprediksi Tumbuh Maksimal 3,35%

Ekonomi NTT Diprediksi Tumbuh Maksimal 3,35%

Kota Kupang/Foto: Gamaliel Amalo
Kota Kupang/Foto: Gamaliel Amalo

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang – Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur diperkirakan tidak lebih dari 3,35% secara tahunan (year on year/yoy) sepanjang 2020.

Angka itu tumbuh lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi NTT 2019 sebesar 5,20%.

“Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada 2020 diperkirakan sebesar 2,95–3,35% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar 5,20% (yoy) sebagai dampak covid-19,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, I Nyoman Ariawan Atmaja saat menyampaikan materi ‘Prospek Pertumbuhan Ekonomi NTT 2020’ dalam Virtual Meeting ‘Sasando Dia (sante-sante duduk baomong deng media)‘, di Kupang, Selasa (19/5).

Virtual Meeting tersebut diikuti Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT Robert Sianipar, Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan NTT Lydia Kurniawati Christyana, dan sejumlah wartawan ekonomi yang meliput di kantor OJK NTT dan Kantor Perwakilan BI NTT

Baca Juga :  Auditor Periksa Tata Kelola Keuangan PT Flobamor

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi NTT pada triwulan I 2020 tercatat melambat yakni 2,84% (yoy) dibandingkan triwulan IV 2019 sebesar 5,32%. Perlambatan juga terjadi pada pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2020 sebesar 2.97% dibandingkan triwulan IV 2019 sebesar 4,97%.

Kondisi seperti itu dipengaruhi pandemi korona (covid-19) yang melanda Tiongkok yang kemudian meluas ke berbagai negara termasuk Indonesia, yang berdampak terhadap ekonomi nasional dan daerah.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi tercermin dari penurunan komponen-komponen pembentukan PDRB pada triwulan pertama. Antara lain porsi konsumsi rumah tangga yang dominan sebesar 75% terhadap PDRB, turun menjadi 4,41% di triwulan I 2020.  Pada triwulan IV 2019, porsi konsumsi rumah tangga yang tercatat sebesar 4,58%.

Baca Juga :  Sang Pemetik Berupah Rp1 Juta

Penurunan terbesar juga terjadi pada sektor perdagangan, hanya mencapai 4,65% di triwulan I 2020 dari trwulan sebelumnya 4,89%. Penyebabnya pembatasan kunjungan wisatawan dan perdagangan luar negeri.

Perlambatan ekonomi yang terjadi pada triwulan I 2020 tersebut, diprakirakan berlanjut pada triwulan II 2020, tetapi membaik pada triwulan III 2020 dengan pelonggaran kebijakan physical distancing telah dimulai pada triwulan tersebut yakni Juli, Agustus dan September 2020. (gma)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda