Home / Nasional / Dr Jonatan A Lassa Diusulkan Masuk Kabinet Jokowi-JK

Dr Jonatan A Lassa Diusulkan Masuk Kabinet Jokowi-JK

Bagikan Halaman ini

Share Button
Jonatan Lassa/Foto: http://www.zef.de

Jonatan Lassa/Foto: http://www.zef.de

Kupang—Lintasntt.com: Dr Jonatan A Lassa, Pengamat Kebijakan Mitigasi Bencana dan Penggagas Forum Academia NTT (FAN) diusulkan mengisi kursi kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Usulan tersebut disampaikan sejumlah warga Nusa Tenggara Timur yang disampaikan lewat surat elektronik kepada Jokowi serta  didaftarkan di ‘polling menteri’  situs jokowi center.

Seperti diberitakan, Jokowi-JK yang memenangi pemilu presiden 2014 minta masyarakat mengusulkan orang-orang profesional yang akan mengisi kabinetnya.

Jonatan lahir di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, meraih doktor (Dr Ing) ari Fakultas Land Management/Pertanian  Universitas Bonn, Jerman pada 2011. Pendidikan S2 (Master of Science) diraih pada 2005 di University of East Anglia, School of Development Studies, Norwich, United Kingdom, dan S1 Teknik Sipil dari Universitas Widya Mandiri Kupang pada 1999.

Saat ini Jonatan bermukim di Singapura sebagai peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU).  Ia yang merintis kajian-kajian mengenai pembangunan Indonesia Timur, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Di Nanyang, Jonatan terutama meneliti soal keamanan pangan dan lingkungan.

Pernah bekerja sebagai pelatih dan peneliti di wilayah lainnya di Indonesia Timur seperti di NTT, NTB, Papua, Papua Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat. Ia bersama sejumlah peneliti menderikan Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) di Kupang.

Jonatan juga berpengalaman dalam kegiatan kemanusian dan penelitian di Aceh, Jogjakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, Sumatra Barat, Sumatra Utara (termasuk Nias dan Tapanuli Tengah). Berpengalaman dalam menangani pengentasan kemiskinan perkotaan di Jawa Timur bersama Badan Pangan Dunia dan lambaga-lembaga swadaya masyarakat tahun 2000-2002.

Anggota Forum Academia NTT Eddy Mesakh mengatakan, beragam pengalaman tersebut, Jonatan Lassa memenuhi kriteria sebagai calon menteri terutama di Kementerian Daerah Tertinggal (PDT).

Menurut Eddy, selama 15 tahun terakhir beliau bekerja dan studi di berbagai negara termasuk Indonesia, Inggris, Jerman, Thailand, Perancis, Belgia, Amerika Serikat dan Singapura. “Beliau juga memiliki reputasi internasional terkait penelitian terkait tata kelola bencana dunia dan juga di dalam negeri,” ujarnya.

Berikut ini kompetensi dan pengalaman serta pendidikan dan prestasi yang diraih Jonatan.

1. Kompetensi dan Pengalaman

Baca Juga :  Luas Tanam Padi di NTT Baru Mencapai 43%

• Kajian ketahanan pangan ASIA  (Indonesia, Thailand, Vietnam, India, Singapura)
• Kajian pembangunan pedesaan daerah tertinggal (Penggagas dan mantan editor Journal of NTT Studies; Meneliti terkait pengihidupan berkelanjutan dan mengunjungi daerah-daerah tertinggal di lebih dari 12 propinsi di Indonesia termasuk Papua, Papua Barat, NTT dan NTB.
• Kajian masyarakat tangguh bencana di daerah-daerah Indonesia Tertinggal. Aktiv mendukumentasi pola adaptasi masyarakat akar rumput di lebih dari 400 desa di Indonesia dan terlibat dalam penelitian lapangan di berbagai konteks di daerah tertinggal yang cenderung rentan bencana dan pangan.
• Kebijakan publik terkait bencana, pembangunan, lingkungan dan perubahan iklim yang saat ini mengancam daerah-daerah tertinggal
• Berpengalaman dalam membangun pendidikan alternatif (metode montesori) di Kupang
• Berpengalaman dalam merintis dan membangun bisnis untuk usaha kecil dan menengah – termasuk sukses dalam merintis bisnis teknologi informasi di NTT sejak 2002 (Saat ini dikelolah oleh adik sendiri)
• Aktiv sebagai relawan untuk berbagai lembaga swadaya masyarakat yang tersebar di berbagai daerah termasuk NTT dan Aceh.
• Aktif sebagai pengamat tentang bagaimana membangun pendidikan tinggi di daerah-daerah tertinggal
• Menulis lebih dari 100 karya tulis termasuk opini, artikel populer, artikel ilmiah baik lokal, nasional maupun internasional dan buku (spt: Sejarah Pangan di Indonesia: Studi Kasus NTT 50 Tahun).
• Menjadi narasumber bagi media-media di dalam dan luar negeri
• Mempromosikan prinsip-prinsip kemandirian intelektual termasuk bersama Forum Academia NTT dalam memberikan penghargaan-penghargaan kepada mereka yang berpresetasi di NTT sejak 2007 hingga saat ini.
• Berpengalaman dalam berbagai pengelolaan program lembaga-lembaga internasional maupun lokal dalam 15 tahun terakhir. Pendidikan dan pelatihan:

2. Pendidikan dan Pelatihan

• S3. Fakultas Land Management/Pertanian (Doktor – Dr. Ing.) 2011
• S2.University of East Anglia, School of Development Studies, Norwich, United Kingdom (Master of Science, 2005)
• S1. Teknik Sipil Unwira Kupang, 1999.
• Ash Center, Harvard Kennedy School, Harvard University, Cambridge, MA, USA (Post doctoral) 2011
• University of Hohenheim, Germany (Summer School – Keamanan Air dan Pangan) 2013
• Harvard Kennedy School, Harvard University, USA Crisis Leadership – Executive Education 2011
• PhD School on Global Governance, Brussels, Belgium Summer Course on Global Governance and European Union 2009
• Bonn International Graduate School for Development Research, ZEF, Bonn, Germany (Sertifikat/Matrikulasi 2007/2008)
• UNU-EHS/ZEF PhD Course, University of Bonn 2009
• Early Warning Sysstem ADPC, AIT Bangkok 2008
• International Humanitarian Law Summer Course, Magdalene College, Cambridge University (2006)
• ADPC – AIT Bangkok, Thailand 2002 Penghargaan/Prestasi
• Full grants travel grants – DAAD Alumni Summer Course – University of Hohenheim, Stuttgart, Germany – Water Security and Management 2013 and Topentag Conference in Stuttgart, Germany.
• Research Grants – Asia Foundation 2013 – Mapping Knowledge Policy network in Indonesia
• Post-doctoral Fellowship – Rockefeller Foundation’s Asian Cities Climate Change Resilience Network, implemented by Mercy Corps Indonesia). June-Dec 2012.
• Willis Re Research Fellowship 2012-2013 – Based at Nanyang Technological University (Declined the offer);
• First Post-doctoral Research Fellowship, Ash Centre, Harvard Kennedy School 2011 (Research on climate adaptation and disaster reduction in Indonesia.)
• Full Fellowship for Crisis Management Leadership at Harvard Kennedy School, Cambridge MA Spring 2011.
• Full travel grants: Stockholm Environmental Institute and UNISDR. Asian Writeshop on Climate Change Adaptation and Disaster Risk Reduction
• Full travel grants – Changing Governance in Asia – Young scholar workshops, International Institute for Asian Studies, Leiden University, Netherlands.
• Full travel grants – Garnet PhD School 2009. Venue at the Université Libre de Bruxelles – ULB; EC/Garnet PhD Program.
• BRC Summer Course 2006 International Humanitarian Law – Cambridge UK. Full Travel Grants by Hivos & BRC.

Baca Juga :  Komisi V DPR Dorong PT INKA Penuhi Kebutuhan Kereta Api Dalam Negeri

3. Prestasi

• DAAD Awards for PhD Scholarship in Disaster Research at ZEF of University of Bonn and Winner of Profile # 8 for GTIEWS PhD Research at EHS-UNU, Bonn 2007;
• British Chevening Awards (British Council, UK), 2004
• Juara Lomba Menulis – Hari Bencana Dunia 2005 (YEU)
• Juara 1 Lomba Menulis dan Seminar Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia 1997 (Pontianak). (gba)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda