Home / Humaniora / Dinkes NTT Gencarkan Sosialisasi Eliminasi Filariasis

Dinkes NTT Gencarkan Sosialisasi Eliminasi Filariasis

Advokasi dan Sosialisasi POPM Filariasis bersama Wakil Bupati Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Kadis Kesehatan Sikka dokter Maria Bernadina dan sejumlah peserta saat sosilisasi di Maumere, 19 Desember 2018. Foto: Dok
Advokasi dan Sosialisasi POPM Filariasis bersama Wakil Bupati Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Kadis Kesehatan Sikka dokter Maria Bernadina dan sejumlah peserta saat sosilisasi di Maumere, 19 Desember 2018. Foto: Dok

Bagikan Halaman ini

Share Button

Maumere–Dinas Kesehatan (Dinkes) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengencarkan sosialisasi dan advokasi eliminasi Filariasis di sejumlah kabupaten endemis untuk mempercepat terwujudnya Indonesia bebas filariasis pada 2020.

Selain itu untuk memfasilitasi dukungan program kesehatan, dari segi program dan kebijakan anggaran.

Dari 22 kabupaten dan kota di NTT, sampai Desember 2018, 18 kabupten tercatat sebagai daerah endemis filariasis. Dari jumlah itu, 18 kabupaten sedang menjalankan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM), sedangkan tiga kabupaten sudah selesai POPM yakni Alor, Rote, dan Ende.

“Alor dan Rote sudah menerima sertifikat eliminasi filariasis dari menteri kesehatan, sedangkan Ende dalam tahap evaluasi penularan (Tas-1),” kata anggota Tim Advokas Dr Pius Weraman, M.Kes, saat kegiatan Advokasi dan Sosialisasi POPM Filariasis dan Program P2P lainnya di Kantor Bupati Sikka, Rabu (19/12/2018).

Kegiatan sosialisasi dihadiri Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Kadis Kesehatan Sikka dokter Maria Bernadina dan 25 undangan antara lain dari Bappeda, Dinas PPO, BPMD, tim penggerak PKK, Yaspem, Kantor Agama, Kodim dan Polres.

Baca Juga :  Jenasah Maria, Korban Tewas Musibah Kapal di Malaysia Tiba di Kupang

Menurut Dr Weraman, filariasis adalah penyakit menular bersifat menahun (kronis) yang ditularkan dari seseorang yang dalam darahnya terdapat anak cacing (Mikrofilaria) kepada orang lain melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini menimbulkan kecacatan menetap berupa pembengkakan kaki, lengan, kantung buah zakar, payudara dan alat kelamin.

Diperkirakan sekitar 120 juta penduduk dunia menderita penyakit ini, dan 1,3 miliar orang berisiko di 83 negara. Dari jumlah itu 851 juta berada di Asia Tenggara. Adapun di Indoensia, daerah endemis filariasis 236 kabupaten dan kota di hampir seluruh provinsi, kecuali NTB, Bali, Yogyakarta, Sulawesi Utara dan Jawa Timur.

Untuk NTT, selama kurun waktu 2002-2014, kasus kronis filariasis ditemukan di 21 kabupaten dan kota berjumlah 3.175 kasus, kecuali Sabu Raijua. Kabupaten Sikka menempati urutan kedua jumlah penderita yakni 681 orang setelah Sumba Barat Daya sebanyak 758 penderita.

Menurutnya, prosentase pencapaian pengobatan filariarias sampai November 2018, semakin baik. Dari target minimal 65%, 14 kabupaten telah melampaui target, termasuk Kabupaten Sikka sebesar 76,5%, namun tiga kabupaten lainnya masih di bawah target yakni Flores Timur 61%, Manggarai Timur 53% dan Kota Kupang 36,4%.

 Tim Sosialisasi dan Advokasi Filariasis diskusi bersama Wakil Bupati Sikka Romanus Woga. Foto: Dok


Tim Sosialisasi dan Advokasi Filariasis diskusi bersama Wakil Bupati Sikka Romanus Woga. Foto: Dok

Kendati begitu, menurut Weraman, dukungan dan komitmen pemerintah daerah dalam rangka menangani upaya pencegahan tetap diharapkan, terutama berkaitan dengan upaya pertisipasi masyarakat. Dengan demikian program NTT bebas filariasis pada 2020 bisa tercapai.

Baca Juga :  Pelawak Mamiek Prakoso Tutup Usia

Wakil Bupati Sikka Romanus Woga mengatakan pihaknya memiliki niat yang sama dengan tim sosialisasi dan advokasi eliminasi filariasis di daerah tersebut. “Intinya kita punya niat yang sama dan satu untuk mencegah penyakit menular supaya masyarakat Sikka sehat,” ujarnya.

Menurut Romanus, Pemerintah Kabupaten Sikka bersama Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (Yaspem) Maumere bahu-membahu melakukan penyakit di daerah itu seperti malaria dan filariasis. “Kalau masyarakat sakit, produktivitas akan menurun,” tandasnya.

Selain Pius Weraman, tim kegiatan sosilisasi dan advokasi eliminasi filariasis juga berasal dari Bappeda NTT yang diwakili Agnes Wea, Maria Ratu Oetju dari Dinas Komunikasi dan Informatika, serta Nona Goring dari Dinas Kesehatan NTT. (gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda