Home / Lingkungan / Dinas Lingkungan Hidup NTT Lakukan Inovasi Konservasi SDA

Dinas Lingkungan Hidup NTT Lakukan Inovasi Konservasi SDA

Benyamin Lola/Foto: Wilson
Benyamin Lola/Foto: Wilson

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Dinas Lingkungan Hidup (LH) NTT telah melakukan berbagai terobosan melalui konservasi sumber daya air (SDA).

Selain itu, Dinas LH juga membangun jaringan kerjasama dengan pihak Pertamina dan International Organization for Migration (IOM/Organisasi Internasional untuk Migrasi) dalam upaya pelestarian lingkungan hidup di NTT.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup NTT Benyamin Lola mengatakan program di dinas yang ia pimpin mencakup dua hal yakni peningkatan pengendalian pemanfaatan SDA dan peningkatan pemeliharaan dan konservasi SDA.

Menurutnya pemeliharaan dan konservasi SDA dilakukan secara berkelanjutan, mengingat upaya pengendalian pemanfaatan SDA yang terbatas. Karena itu, dilakukan satu metode analisis yang komprehensif guna menjawab berbagai persoalan lingkungan di daerah ini.

“Saya mencontohkan selama ini secara rutin dilakukan penanaman pohon disekitar lokasi sumber air. Padahal, lokasi mata air itu adalah tempat keluarnya air, bukan tempat produksinya air. Sedangkan tempat produksi air ada di daerah tangkapan air,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, menurut Benyamin, pihaknya melakukan satu terobosan terkait kegiatan konservasi SDA dengan prioritaskan pada area tangkapan air. Atau pada area cekungan air tanah (akuifer) melalui analisis yang baik, yakni membuat sumur resapan.

Baca Juga :  Eksploitasi Penyu Marak di Rote, Pemerintah Daerah Tidak Peduli

Selama 2017, Dinas LH NTT telah membangun sebanyak sembilan sumur resapan di kota Kupang. Sumur resapan tersebut dibangun di areal rumah ibadah dan sekolah di Kota Kupang. Terbatasnya sumur resapan itu, lanjut Benyamin Lola, disebabkan item kegitan tersebut tidak tercantum dalam rencana kerja (renja) Dinas LH NTT, sehingga dilaksanakan atas dukungan dana dari komisi IV DPRD NTT.

Sumur resapan air, jelas Benyamin Lola, adalah satu metode untuk menjawab bagaimana siklus air bisa terjadi lewat intervensi sumur resapan. Selain itu, sumur resapan dengan metode akuifer merupakan bagian bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air. Ini menjadi upaya inovasi Dinas LH NTT lewat kegiatan pemanfaatan konservasi SDA.

“Kami berupaya untuk membangun sumur resapan di seluruh NTT. Namun, sangat butuh dukungan dana yang cukup besar. Jika RPJMD 2019 tersedia anggaran untuk itu, pasti kami siap membangun sumur resapan di seluruh NTT,” ucapnya.

Baca Juga :  Debit Berkurang, PDAM Kupang Salurkan Air Bergilir

Terkait kerjasama dengan IOM, Dinas LH NTT juga bersinergi dengan pihak Sinode untuk mengajak umat mengatasi persoalan air melalui upaya pemanfaatan konservasi SDA.

Khusus kerjasama IOM, menurut Benyamin Lola, telah dilakukan penanaman mangroof, penanaman anakan pohon sepe dan membersihkan sampah pelastik di wilayah pesisir Kelurahan Oesapa guna pelestarian lingkungan di sekitar wilayah pesisir laut.

Untuk penanganan persoalan lingkungan, ungkap Benyamin Lola, selama 2017 juga menjalin kerjasama dengan lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang ada di NTT dan sementara ini menjajaki kerjasama dengan pihak Pertamina guna pemanfaatan dana corporate social responsibility (CSR/Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) serta telah dibentuksatuan karya (Saka) Kalpataru di Dinas LH NTT untuk penanganan lingkungan hidup. (wilson boymau/humasNTT)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda