PROFIL

FOTO: LINTASNTT.COM/GAMALIEL

FOTO: LINTASNTT.COM/GAMALIEL

Fary Djemy Francis
Menjembatani Potensi Kampung dan Kota

Sudah saatnya pembuat kebijakan mengubah pola pikir bahwa pembangunan pusat peradaban dan ekonomi bisa berawal dari kampung atau desa-desa, tidak selalu dari kota.

KEHIDUPAN kampung sepertinya sudah tidak menarik lagi bagi sebagian orang. Apalagi kesenjangan pembangunan antara kota dan perdesaan seperti sekarang ini menjadikan daerah perkotaan begitu memikat bagi warga yang hidup di kampung-kampung.  Urbanisasi secara besar-besaran hampir merata terjadi di berbagai daerah. Intensitasnya pun dari tahun ke tahun terus meningkat. Banyak orang dari desa kemudian berbondong-bondong pergi ke kota mengadu nasib dengan harapan bisa hidup lebih layak.

Sisi buram masalah kependudukan ini cukup mengusik Fary Djemy Francis, yang ketika itu bergelut di bidang pemberdayaan masyarakat. Sebuah kejadian pada 1996 cukup memengaruhi tindakan dia selanjutnya. Kala itu lewat siaran televisi ia menyaksikan pasangan suami istri asal Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan kampung karena tergiur kehidupan kota.

Keluarga dengan tiga anak remaja itu mencoba mencari peruntungan di kota. Namun yang mereka dapat justru sebaliknya, sebuah kesengsaraan. Pasangan itu kini tinggal berimpitan di gubuk kumuh berukuran 3×4 meter di bantaran kali di Kota Kupang. Sang ayah bekerja serabutan, kadang menjadi buruh, kadang pula berganti pekerjaan sebagai pengais sampah.

Berawal dari keprihatinan tersebut, Fary memutuskan meninggalkan kenyamanan kota. Ia merasa terpanggil untuk membuat warga kampung berpikir lebih rasional.  Dari situ Fary lebih sering berbaur bersama warga di kampung-kampung di pedalaman Pulau Timor. Ia juga menyambangi perkampungan di Pulau Sumba, Rote, dan Flores. Di sana Fary menemukan ratusan ribu orang yang tetap bertahan di kampung, yang ia sebut sebagai sahabat.

“Mereka perajin tais, petani sawah, petani garam, dan penggembala sapi,” kenangnya. Bagi Fary, sahabatnya itu bukan orang bodoh seperti anggapan banyak orang. Mereka memiliki kearifan, kesetaraan, dan martabat. Mereka bercocok tanam beragam jenis tanaman pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sikap kemandirian yang unggul seperti itu tentu tidak dimiliki orang kota.

Praksis pemikiran Fary pun muncul. Ia menganggap salah jika orang kota merasa tahu banyak hal. “Bukankah kebanyakan penghuni kota sekarang adalah orang-orang kampung yang telah bermetamorfosis dan seolah-olah telah menjadi orang baru,” ujarnya.  Cara pandang bahwa kampung jauh tertinggal, menurut Fary, merupakan salah satu alasan arus urbanisasi sulit terbendung.

Hidupkan potensi
Keinginan Fary untuk memberdayakan kampung dilandasi motivasi bahwa kampung menyimpan berbagai potensi yang lumayan besar. “Banyak orang tidak tahu dan tidak sadar bahwa kampung memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan,” tegasnya.
Karena itu, menurut Fary, untuk membangun kampung perlu ada terobosan berani yang berpihak. “Bahkan mungkin perlu ada model bagaimana konsep pembangunan nasional berawal dari kampung.”.

Spirit Fary itu pada 1999 melahirkan ide memberdayakan kampung. Waktu itu Fary masih bergelut dengan pekerjaan membantu eks pengungsi Timor Timur bersamaan dengan eksodus ratusan ribu pengungsi ke Kupang.  Fary kian mantap mengangkat martabat kampung setelah menjadi fasilitator pada sebuah diskusi tentang jati diri bangsa dan aktualisasinya dalam konteks lokal, di Kupang pada Mei 2006. “Diskusi itu meninggalkan bekas yang semakin dalam pada saya.”

Fary terus merajut impian. Pada 2010, tiga tahun setelah kembali memperdalam ilmu pemberdayaan masyarakat di bidang watersheds management for community development di Somneed Institute Andra Pradesh, India, ia membangun sebuah media pembelajaran di Oemasi, sebuah desa terpencil di pegunungan berhawa sejuk di Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang.

Media yang diberi nama Sekolah Lapangan Nekamese itu bukan sekolah konvensional sehingga kurikulum khusus tidak disiapkan. Kelompok petani dan pedagang serta orang-orang dari kota datang ke sana untuk belajar.  Menurut mahasiswa program doktor Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia ini, di sekolah tersebut orang kota dan orang kampung akan bertemu, dan setiap orang menjadi guru bagi sesamanya.

“Dengan demikian, kita tidak mengenal istilah orang pandai dan orang bodoh karena orang kota mempelajari keunggulan di desa seperti cara memerah susu sapi dan kambing, merawat kolam ikan dan tanaman di kebun, menyiapkan makanan ternak, dan bercocok tanam. Adapun orang desa bisa menimba keterampilan mengoperasikan komputer dan internet.

Supaya pembelajaran berjalan optimal, Fary menyiapkan tenaga profesional di berbagai bidang yang menangani empat paket pembelajaran yang dinamai kampung budaya tradisional, kampung karya, kampung keluarga, dan kampung petualang. Kampung budaya, misalnya, mencakup kegiatan menenun, membuat suling bambu, berkuda, dan memancing ikan. Adapun kampung karya antara lain membuat masakan tradisional, pupuk bokashi, menanam padi, dan memerah susu.

Di sana juga tersedia miniatur pertanian, ratusan kambing etawa, sapi, kuda, dan babi. Ada juga kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman hortikultura. Semua bangunan tersebut terletak di lereng bagian kiri bangunan utama.  Di sana sudah ada petugas yang akan membimbing warga kota untuk mempelajari proses memerah susu atau beternak. Anak-anak kota bisa meminta penjelasan dari petani tentang pentingnya rumput dan dedaunan bagi pertumbuhan ternak.

Apa yang Fary lakukan, secara perlahan tapi pasti, memikat orang kota sehingga banyak yang mulai bertandang ke Kampung Oemasi. Mereka terdiri dari petani, siswa, dan mahasiswa.  Dengan banyaknya warga yang berbondong-bondong belajar tentang pemberdayaan masyarakat, diharapkan spirit kesetaraan muncul karena sekolah itu menyediakan peluang yang sama bagi seluruh elemen masyarakat. (Sumber: Mediaindonesia/Palce Amalo)