Home / Politik / Calon Ketua Umum Golkar Aziz Syamsuddin Sosialisasi di Kupang

Calon Ketua Umum Golkar Aziz Syamsuddin Sosialisasi di Kupang

Calon Ketua Umum Partai Golkar Aziz Syamsuddin (Ketiga dari Kiri). Foto: Gamaliel
Calon Ketua Umum Partai Golkar Aziz Syamsuddin (Ketiga dari Kiri). Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Calon Ketua Umum Partai Golkar Aziz Syamsuddin bertemu Ketua DPD dan Ketua DPC Golkar se-Nusa Tenggara timur di Hotel Neo, Kupang Selasa (1/3).

Pertemuan itu dimanfaatkan Aziz untuk memaparkan visi dan misinya jelang Munaslub Partai Golkar yang digelar pada April 2016.

NTT adalah provinsi yang ke-14 yang didatangi Aziz guna untuk memperkenalkan diri sekaligus menjaring dukungan dari DPD dan DPC Golkar di daerah.

Aziz adalah satu dari sejumlah calon ketua umum yang akan maju pada Munaslub tersebut. Calon ketua umum lainnya yakni Mahyudin dan Setya Novanto. Pertemuan tersebut dihadiri seluruh ketua DPC Golkar dan ketua DPD Golkar NTT Ibrahim Medah.

Baca Juga :  PKB NTT Siapkan Kader untuk Calon Gubernur

Program stretegis Aziz ialah akan menjadikan Golkar sebagai ‘Katalis Percepatan Perubahan’ untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Program lainnya mengangkat koordinator wilayah di setiap provinsi yang akan berkantor di DPP Partai Golkar. Jika terpilih menjadi ketua umum, Aziz mengaku akan menetapkan besaran dana yang wajib disetor oleh calon kepala daerah yang maju dari Golkar.

Dana yang disetor tersebut tidak akan menjadi milik Partai Golkar namun akan dikembalikan ke calon kepala daerah tersebut.

Money Politic

Seusai pertemuan, Aziz mengatakan kepada wartawan bahwa ia menolak money politic yang kemungkinan muncul jelang Munaslub.

Bagi Aziz money politic akan merusak struktur partai dan sendi-sendi demokrasi. Karena itu tidak boleh ada money politic selama pelaksaan Munaslub.”Tetapi uang makan boleh. Kalau kita undang orang kan harus siapkan makan,” ujarnya.

Baca Juga :  Nasdem Gelar Diskusi 'Menuju NTT Berketahanan Pangan'

Pemberian uang makan pun harus dalam koridor yang normal, tidak boleh terjadi money politic untuk pembelian suara. Jika itu terjadi sangat disayangkan. Selain itu orang yang menerima uang tidak menjamin ia memilih calon yang menyerahkan uang tersebut.

“Untuk apa dikasih uang. Lebih baik dana itu dimanfaatkan untuk menbesarkan partai dan diberikan kepada panti asuhan,” kata Aziz. (gma)

 

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda