Home / Humaniora / Calo Bayar Orangtua TKI Adelina Sau Rp150 Ribu

Calo Bayar Orangtua TKI Adelina Sau Rp150 Ribu

Keluarga mendiang Adelina Jemira Sau bersama aktivis Sarah Lerry Mboeik (ketiga dari kanan)/Foto: Lintasntt.com
Keluarga mendiang Adelina Jemira Sau bersama aktivis Sarah Lerry Mboeik (ketiga dari kanan)/Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Keluarga mendiang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Adelina Jemira Sau, 29, berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur sejak Kamis (15/2) untuk menjemput jenasah yang dijadwalkan tiba Sabtu (17/2) pagi

Adelina asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan meninggal karena dianiaya majikannya di Malaysia. Ia dipaksa tidur bersama anjing di beranda rumah selama satu bulan dengan kondisi sakit.

Adelina meninggal pada Minggu (11/2) dalam perawatan di rumah sakit. Kejadian itu mendorong keluarga melaporkan calo yang merekrut Adelina ke Polres Timor Tengah Selatan. “Calo yang merekrut Adelina seorang perempuan. Kami tidak tahu nama perempuan itu,” kata keponakan Adelina Sau, Ambrosius Ku kepada wartawan, Kamis (15/2).

Awalnya perempuan tersebut datang ke rumah Adelina. Dia bertemu ayahnya Marten Sau dan ibu Yohana Banunaek. Saat itu, sang calo minta izin kepada kedua orang tua untuk membawa Adelina bekerja ke Malaysia. “Ayahnya setuju tapi ibu menolak,” kata Ambrosius.

Karena menolak, calo kemudian pulang. Namun keesokan harinya dia kembali lagi ke rumah Adelina. Di sana ia hanya bertemu ayah, sedangkan ibunya bekerja di sawah. Kepada Marten, calo janji menyerahkan uang Rp500 ribu jika diizinkan membawa Adelina.

Baca Juga :  Angka Kematian Ibu Malahirkan di Flores Timur Menurun

Karena diiming-iming uang, ayahnya setuju Adelina pergi bekerja ke Malaysia, namun saat itu calo hanya menyerahkan uang Rp150 ribu. “Ketika mama Yohana Banunaek pulang dari sawah. Bapaknya bilang perempuan itu datang lagi, pasti dia sudah bawa Adelina ke Malaysia,” cerita Ambrosius.

Kendati terkesan dibawa paksa, menurut Ambrosius, keluarga tidak melapor polisi karena mereka yakin Adelina akan baik-baik saja.”Kami pikir kalau Adelina sudah di Malaysia, kehidupannya mungkin lebih baik,” katanya.

Lagi pula dengan bekerja di Malaysia, orangtuanya berharap Adelina mengirim uang setiap bulan buat orang tuanya. Namun haraoan itu ternyata tidak pernah menjadi kenyataan. “Kami menerima kabar Adelina meninggal,” kata Ambrosius didampingi sejumlah anggota keluarga dari Timor Tengah Selatan.

Perempuan yang hanya tamat sekolah dasar (SD) itu direkrut pada 2015 dan sejak kepergiannya, tidak ada lagi komunikasi dengan orang tuanya. “Tidak ada telepon dan juga tidak ada kiriman uang sampai kami melihat foto dia disiksa dan sudah Dia meninggal. Kami sangat sedih,” ujarnya.

Kabar duka tersebut cepat menyebar ke masyarakat. Namun awalnya Adelina dikabarkan berasal dari Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang dengan nama Adelina Lisao dan berusia 21 tahun.

Baca Juga :  DPRD NTT Buka Puasa Bersama Wartawan

Ternyata identitas seperti paspor dan kartu tanda penduduk (KTP) yang dikantongi Adelina palsu. Sesuai surat baptis yang diperlihatkan Ambrosius, Adelina lahir di Desa Abi, Kecamatan Oenino, Timor Tengah Selatan pada 29 April 1989, dan kini berusia 29 tahun.

Pemalsuan Identitas

Aktivis Sarah Lery Mboek mengatakan tiga pelaku penganiayaan terhadap Adelina sudah ditangkap polisi Malaysia, sedangkan identitias calo yang merekrut Adelina sudah dikantongi polisi dan diharapkan segera ditangkap dalam waktu dekat.

Menurut Sarah, kasus ini tidak hanya terbatas pada penjualan manusia tetapi juga pemalsuan dokumen dan pemalsuan identitas yang diduga melibatkan aparat pemerintahan.

Keluarga Adelina juga bertemu calon gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk minta bantuan pemulangan jenasah dari Malaysia. “Kami minta jalan keluar sehingga pemulangan jenasah ke Indonesia lancar,” kata Dia.

Pasangan calon gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Adreanus Nae Soi yang diusung Nasdem, Golkar, dan Hanura bertekad memberantas kejahatan perdagangan manusia untuk bekerja ke luar negeri.

Menurut Viktor, kejahatan perdagangan manusia diberantas mulai dari mafia, dan mengatasi faktor penyebab terjadinya perdagangan manusia. “Banyak faktor menyebabkan masyarakat terjerat human trafficking, dan muaranya pada masalah kemiskinan,” katanya. (gma/sumber: mi)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda