Home / Nasional / Bipolo jadi Sentra Garam Industri Terbesar di NTT

Bipolo jadi Sentra Garam Industri Terbesar di NTT

GARAM INDUSTRI--Direktur Utama PT Garam (Persero) R Achmad Budiono bersama  Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono memberikan keterangan pers di tambak pengaraman Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (25/8/2016). Foto: Gamaliel
GARAM INDUSTRI--Direktur Utama PT Garam (Persero) R Achmad Budiono bersama Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono memberikan keterangan pers di tambak pengaraman Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (25/8/2016). Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–PT Garam (Persero) tengah mengembangkan Desa Bipolo di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, menjadi sentra garam industri terbesar di Nusa Tenggara Timur (NTT)

Untuk tahap pertama, lahan yang dikembangkan seluas 385 hektare (ha) dengan nilai investasi mencapai Rp4,5 miliar yang mampu memproduksi 40.000-50.000 ton garam per tahun.

Lahan di desa tersebut akan terus dikembangkan hingga mencapai mencapai nilai investasi Rp10 miliar. Potensi lahan garam di desa tersebut antara 7.000-8.000 ha yang mampu memproduksi antara 700.000-800.000 ton per tahun.

Produksi garam sebesar itu merupakan yang terbesar di NTT. Jumlah produksi sebanyak 800.000 ton tersebut hanya berasal dari Desa Bipolo. Padahal NTT memiliki potensi garam yang lumayan besar, seperti di Kabupaten Nagekeo dan Ende.

Baca Juga :  Dana Rp270 Juta Per Desa Siap Dikucurkan April

Selain itu akan dikembangkan garam industgri di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Sulawesi yang diharapkan memenuhi kebutuhan garam nasional, sekaligus menutup impor garam.

“Kita sudah swasembada garam konsumsi sejak 2012, untuk garam industri pangan kalau kita mau, bisa diselesaikan dalam satu tahun,” kata Direktur Utama PT Garam (Persero) R Achmad Budiono kepada wartawan di lokasi tambak pengaraman di Desa Bipolo, Timur, Kamis (25/8/2016).

Achamd mengatakan pada 2016, Indonesia masih mengimpor 3 juta ton garam, angka itu bertambah dari tahun sebelumnya hanya 2,1 juta ton. Dari jumlah itu, 1,7 juta ton di antaranya untuk kebutuhan industri kimia, sedangkan kebutuhan garam untuk industri pangan antara 350.000-40.000 ton per tahun atau lebih kecil dari produksi garam Bipolo.

Baca Juga :  Ambang Batas Presiden tidak Bertentangan dengan Konstitusi

Sementara itu Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono yang mengunjungi lokasi tambak penggaraman tersebut mengatakan produksi garam berbeda dengan yang dilakukan petani garam di Madura, Jawa Timur.

“Di Bipolo, garam diolah dan dibersihkan supaya hasil hasilnya menjadi lebih tinggi dan masuk dalam kategori garam untuk industri,” ujarnya.(gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda