Home / Bisnis / BI dan Sejumlah Bank Sentral Turunkan Suku Bunga

BI dan Sejumlah Bank Sentral Turunkan Suku Bunga

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti /Foto: BI
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti /Foto: BI

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Sepanjang 2019, Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali menjadi 75 basis pon (bps) ke level 5,28%.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan penurunan suku bunga sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah risiko perlambatan ekonomi global.

Di kawasan Asean, tiga negara tercatat telah menurunkan suku bunga secara berurutan untuk memberikan stimulus kepada perekonomian yakni Bank Sentral Thailand 1,5%, Bank Sentral Malaysia 3%, dan Bank Sentral Filipina 4,25%.

Sesuai pengamatan BI, lanjut Destry, laju perekonomian dunia tahun ini masih akan berpotensi melambat terutama akibat masih tingginya tensi perang dagang (prolonged trade war) antara Amerika dengan Tiongkok.

Baca Juga :  Pertanian Sumbang 28,40% Terhadap PDRB NTT

“Aksi balas-membalas pengenaan tarif terhadap barang impor, ditambah dengan cuitan Trump, yang membuat pasar keuangan semakin volatile,” kata Destry Damayanti saat menyampaikan sambutan pada cara pengukuhan Kepala Perwakilan (KPw) BI Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (27/9/2019).

Menurutnya, isu geopolitik seperti peningkatan potensi no-deal brexit dan ketidakstabilan politik kawasan Uni Eropa dan serangan terhadap basis produksi utama minyak di Saudi Arabia juga turut memengaruhi
perkembangan ekonomi global.

Kondisi tersebut sudah mulai memberikan rembetan negatif ke beberapa negara, Turki dan Argentina bahkan sudah memasuki masa resesi akibat pertumbuhan negatif dan relatif tingginya Utang Luar Negeri (ULN).

Keseluruhan fenomena ini menjadi titik balik terjadinya arus ‘deglobalisasi’ sehingga dapat menciptakan keseimbangan baru jika volume perdagangan dunia terus menurun dan kebijakan perang tarif juga diikuti oleh negara eksportir (inward looking policy).

Penurunan volume perdagangan tersebut juga diikuti oleh menurunnya permintaan komoditas sehingga dari negara berkembang sehingga menyebabkan lemahnya kinerja perdagangan ekspor impor. (*)

Baca Juga :  PKK Kota Kupang Gagas Pengelolaan Sampah

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda