Home / Timor / Bendungan Temef Tampung 77 Juta Meter Kubik Air

Bendungan Temef Tampung 77 Juta Meter Kubik Air

Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat menyampaikan sambutan di Undana, Senin (4/9). Foto: Lintasntt.com
Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat menyampaikan sambutan di Undana, Senin (4/9). Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Bendungan Temef yang akan dibangun di Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), menampung air sebanyak 77 juta meter kubik.

Pembangunan Bendungan Temef akan dimulai pada Desember 2017, dan menjadi bendungan terbesar ketiga yang dibangun di NTT. Dua bendungan lainnya Rotiklot di Kabupaten Belu dan Raknamo di Kabupaten Kupang yang dijadwalkan diresmikan Presiden Joko Widodo tahun ini.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya mencontohkan bendungan terbesar pertama di NTT dibangun pada 1999, hanya menampung 19 juta meter kubik air.

“Bendungan Temef akan menyediakan air bersih, air untuk pertanian, peternakan dan dan dapat mencegah banjir di Kabupaten Malaka,” kata Lebu Raya saat menyampaikan sambutan pada Dies Natalis Universitas Nusa Cendana (Undana) ke-55 dan wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana di Kampus Undana Penfui Kupang, Senin (5/9/2017).

Baca Juga :  PU Serahkan Data Perkembangan Proyek Jalan ke DPRD Kota

Jika bendungan selesai dibangun, Lebu Raya memastikan persoalan kekeringan di Timor Tengah Selatan hingga Malaka berhasil diatasi, karena sawah-sawah tadah hujan tidak lagi kekurangan air. Bendungan ini juga akan menghasilkan listrik sekitar 500 Megawatt (Mw).

Kemarau di NTT berlangsung selama delapan bulan mengakibatkan banyak wilayah mengalami kekurangan air. Akan tetapi, bendungan yang saat ini terus dibangun di NTT menyediakan air yang cukup bagi warga untuk bercocok tanam saat kemarau.

Pada kesempatan tersebut, Lebu Raya minta Undana terus membantu petani sehingga dapat mengelola pertanian lahan kering mereka dengan lebih produktif. Undana juga diminta tidak mengabaikan pertanian lahan kering karena mata kuliah pokok di universitas ini ialah pertanian lahan kering. “Undana harus terus mengembangkan teknologi yang lebih sederhana agar bisa dimanfaatkan oleh petani,” ujarnya.

Baca Juga :  Terlambat Cek In, Penumpang Pecahkan Kaca Counter Lion Air El Tari

Menurutnya, banyak teknologi sudah dihasilkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Naibonat di Kabupaten Kupang. “Saya bilang ke mereka (BPPT) tidak boleh bangga dengan teknologi baru sebelum teknologi itu sudah diterapkan di petani atau telah mengubah kehidupan petani,” tandasnya. (MI/palce amalo)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda