Home / Daerah / Begini Perjuangan PLN Melistriki Pulau Terluar Salura

Begini Perjuangan PLN Melistriki Pulau Terluar Salura

Foto: PLN
Foto: PLN

Bagikan Halaman ini

Share Button

Waingapu–Salura adalah Sebuah pulau di bagian selatan dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai tersebut, pengunjung harus melewati ruas jalan yang yang sebagian besar belum beraspal.

Perjalanan dari Waingapu, ibu kota Sumba Timur melewati perbukitan Tana Rara nan indah dan memesona di kiri dan kanan sepanjang perjalanan, yang menjadi obyek bagi para pemburu penikmat pesona alam eksotik.

Perjalanan dari Waingapu menuju pantai Katundu, lokasi penyebrangan terdekat ke Salura, juga melintasi beberapa sungai, ditempuh selama 8 jam. Jika terjadi gelombang tinggi di laut, pengunjung tidak dapat menyeberang ke Salura pada hari yang sama. Mereka harus menginap di pantai menunggu sampai cuaca kembali normal.

Kendati tidak terjadi cuaca buruk, laut antara Salura dan Sumba selalu bergelombang tinggi, termasuk lokasi yang dikenal dengan nama Pintu Air, atau jalur keluas dan masuk ketinting. Penyeberangan dari Katundu ke Salura sekitar 90 menit.

“Di pintu air ini, arus air sangat kencang dan berpotensi terjadi kecelakaan (kapal tersedot arus), sehingga dibutuhkan keahlian sang nahkoda mengemudikan kapal dan juga dukungan para penumpang untuk tenang dan tidak beraktivitas sehingga kapal dapat melewati pintu air,” kata Manajer PLN UP3 Sumba Made Hary.

Baca Juga :  Komisi V Terima Laporan Indikasi Mafia Pengiriman Sapi di NTT

Ketika tiba di pulau Salura, untuk turun dari kapal dibutuhkan waktu sekitar 30-60 menit karena gelombang di bibir pantai yang cukup tinggi. Kondisi seperti itu menjadi tantangan tersendiri bagi pegawai PLN saat membawa material kelistrikan dan material lainnya untuk membangun pulau tersebut.

Pulau Salura hanya terdapat satu desa yakni Desa Salura, berpenduduk 106 keluarga atai 632 jiwa, dengan mata pencarian sebagai nelayan. “Sebagai penanggung jawab PLTS Salura dengan daya 350 kW bisa menerangai 632 jiwa. Di sini saya hidup bersama 2 operator lainnya ungkap Abdul, pegawai PLN yang bertugas di Salura.

Daerah dengan pembangunan paling tertinggal di NTT ini saya rasakan dan untuk Di sektor kelistrikan hanya bertumpu dari PLTS tersebut. Namun demikian, Semangat tetap kami jalani dan yang kami ingat, Dalam kunjungan beberapa waktu yang lalu , Manajer PLN UP3 Sumba Made Hary berpesan, “Tolong bantu jaga PLTS Salura karena ini amanah dari PLN dan jangan kecewakan Pelanggan”

Salah satu kepercayaan yang PLN berikan akan kami jaga dari 2013 kami mengabdi disini. Harapannya kami ingin Pemerintah menengok kami dan melihat kondisi kami dan membantu baik dalam kondisi jalan, air bersih dan penangkapan nampan untuk kelanjutan hidup yang mata pencaharian besar penduduk Salura.

Baca Juga :  Rendroyoko Jabat General Manager PLN NTT

Komitmen kami membangun infrastruktur kelistrikan di Nusa Tenggara Timur bukan pekerjaan mudah. Jangan bayangkan Pulau Salura seperti Kupang penerangan siang-malam, namun di salura malam hari gelap gulita, jalan setapak, batu lepas, boro-boro pesawat kecil tidak ada lahan untuk landasan dan bahkan kapal besar juga tidak pernah bersandar ke Salura.

Kalau ke wilayah seperti ini, dulu perjuangan PLN untuk membawa material Bulan Oktober 2013 hadir menggunakan sampan, baik akinya, solar cell , panel dan pembangkit menggunakan sampan dan akhirnya Hasilnya, kini pedalaman NTT bisa mulai terang benderang.

Sekarang dengan adanya listrik PLN, Dulunya Mama Mad cuci baju menggunakan tangan, sekarang bisa menggunakan mesin cuci, dan jualan es batu siang dan malam hari bisa produktif anak-anaknya sekarang bisa belajar tekun dan menonton televisi di malam hari.

“Saya sungguh senang sekali. Mudah-mudahan mengalirnya listrik ini membawa banyak manfaat bagi kehidupan warga. Sebab, listrik adalah salah satu kunci untuk kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,”ungkap Mama Mad, salah satu warga penduduk Salura. (siaran pers PLN)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda