Home / Humaniora / Banjir 1,5 Meter Kepung Empat Desa di Belu

Banjir 1,5 Meter Kepung Empat Desa di Belu

banjir

Bagikan Halaman ini

Share Button

KUPANG—LINTASNTT.COM: Banjir dengan ketinggian antara 1-1,5 meter mengepung empat desa di Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur sejak Jumat (21/6) pagi.

Empat desa yang terendam banjir itu ialah Umato’os, Lasaen, Fafoe, dan Sikun. Banjir terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah itu sejak Kamis (20/6) sekitar pukul 19.30 Wita dan masih berlangsung hingga Jumat siang.

Banjir mengenangi rumah penduduk, jalan raya, dan fasilitas umum membuat warga sulit beraktivitas. Seluruh warga yang tidak memiliki rumah panggung telah mengungsi ke rumah panggung milik warga lainnya. “Ada juga warga yang mengungsi ke kebun dan desa tetangga,” kata Okto Manek, warga Besikama, ibu kota Kecamatan Malaka Barat.

Baca Juga :  Pendeta Merry Kolimon Pimpin GMIT

Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, sedangkan kerugian yang ditimbulkan banjir belum dilaporkan oleh pemerintah setempat. Jalan raya terendam air mengakibatkan angkutan perdesaan dan angkutan antar kota dalam provinsi (AKAP) tidak beroperasi. “Sejak pagi sampai siang belum ada kendaraan yang beroperasi,” kata Dia.

Dia mengatakan banjir juga merendam tanaman pertanian seperti jagung, umbi dan kacang-kacangan mengakibatkan warga mengalami gagal panen. Banjir yang masuk ke tiga desa tersebut melewati tanggul sungai Benanain yang jebol sepanjang 60 meter sejak 2011 lalu, namun belum diperbaiki.

Banjir yang melanda permukiman warga di Malaka Barat terjadi setiap tahun sejak 2000 namun belum berhasil diantisipasi pemerintah sampai saat ini. Pemerintah setempat sudah membangun tanggul penahan banjir sepanjang 10 kilometer di bantaran sungai Benanain yang memisahkan Kecamatan Malaka Barat dan Malaka Tengah, namun akhirnya jebol tersapu banjir.

Baca Juga :  Beasiswa Miskin untuk 1.000 Siswa Siap Dicairkan

Kondisi itu mengakibatkan air mengalir ke permukiman penduduk. Biasanya jika terjadi hujan lebat di Malaka Barat, ketinggian air di permukiman penduduk berkisar mencapai 1,5 meter Karena itu, hampir sebagian besar rumah penduduk di daerah itu berbentuk rumah panggung. Warga yang belum memiliki rumah panggung tidak luput dari banjir. (GBA)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda