Home / Humaniora / Atma Jaya Gelar Pameran ‘Jejak Akulturasi Budaya Portugis dan Indonesia’

Atma Jaya Gelar Pameran ‘Jejak Akulturasi Budaya Portugis dan Indonesia’

Bagikan Halaman ini

Share Button
Foto: Atma Jaya

Foto: Atma Jaya

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah– Ir. Sukarno, Presiden Pertama RI

Jakarta—Lintasntt.com: Tahukah Anda, jika kata bola, meja, sepatu, boneka, jendela, dan armada berasal dari bahasa Portugis? Ya, kata tersebut muncul ketika dahulu bangsa Portugis menduduki Indonesia selama berabad-abad. Akhirnya, terjadilah akulturasi budaya antara Indonesia dan Portugis. Akulturasi yang merupakan bagian dari sejarah ini adalah kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia hingga saat ini.

Sebagai wujud kepedulian Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada sejarah bangsa, maka dalam rangkaian acara Lustrum XI Atma Jaya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melalui Pusat Kajian Bahasa dan Budaya (PKBB) bekerja sama dengan Prodi Hospitality Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya mengadakan Gelar Wicara dan Pameran Karya Jejak Akulturasi Budaya Portugis dan Indonesia. Acara dihelat pada hari Kamis, 30 April 2015 pukul 08.30 – 13.00 WIB, bertempat di Gedung Yustinus Lt. 15 Unika Atma Jaya.

“Kami adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Maka, kami turut aktif melestarikan kekayaan Indonesia. Salah satunya dengan mengadakan acara yang mengundang langsung berbagai narasumber yang ikut melestarikan sejarah,” ungkap Titis Puspitarini, MBA., selaku Ketua Panitia Acara.

Baca Juga :  Jepang Tertarik Kerjasama Pariwisata dan Ekonomi dengan Kota Kupang

Kegiatan ini dihadiri oleh Duta Besar Portugal untuk Indonesia, H.E. Mr. Joaquim Moreira de Lemos; Ketua Asosiasi Persahabatan dan Kerja Sama Indonesia Portugal, Harry P. Haryono; Sekretaris Ikatan Besar Keluarga Tugu, Johan Sopaheluwakan, S.Pd.; dan Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Dr. Arief Yahya . Acara ini terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama adalah gelar wicara untuk mengupas berbagai sudut pandang mengenai keberadaan komunitas Kampung Tugu. Bagian kedua adalah pameran foto, kuliner, dan pagelaran musik Keroncong Tugu. Gelar wicara dan pameran yang tidak memungut biaya ini, akan memberikan kesempatan bagi 100 orang pendaftar pertama untuk mencicipi kelezatan kuliner Kampung Tugu.

Sejarah panjang bangsa Indonesia dengan Portugis melahirkan banyak hal dan merata di seluruh tanah air. Salah satunya di Jakarta, terdapat peninggalan hidup bangsa Portugis. Salah satu yang ada adalah Kampung Tugu di kawasan Jakarta Utara.

Johan Sopaheluwakan, Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Tugu mengungkapkan jika kampung ini bernama kampung Tugu yang berasal dari kata Kampung Portugis, yang lama kelamaan hanya disebut Kampung Tugu saja.

Di sana tinggal sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai keturunan Portugis dan tetap mencoba mempertahankan beberapa budaya Portugis dalam hidup keseharian mereka. Namun di tengah gelombang modernisasi yang melanda Jakarta dewasa ini, sangat sulit bagi mereka untuk tetap dapat mempertahankan identitas mereka sebagai keturunan Portugis. Perkembangan modernisasi dan ekonomi telah menggerus keaslian budaya mereka saat ini, sehingga ciri budaya Portugis semakin hilang ditelan perkembangan jaman.

Baca Juga :  Dihina, Sekarang Anak Pembantu Ini Punya 7.000 Toko

Salah satu yang masih berusaha bertahan adalah kesenian Keroncong Tugu. Musik keroncong ini, yang banyak dipengaruhi kesenian Portugis masih berusaha bertahan di tengah maraknya berbagai jenis musik yang berkembang di tanah air. Kondisinya saat ini tidaklah begitu bagus dan jika tidak dipelihara dengan baik, maka jejak hidup salah satu pengaruh kebudayaan Portugis di Indonesia dikhawatirkan akan hilang.

Akhirnya, acara ini didedikasikan dari Atma Jaya bagi bangsa. Hal ini selaras dengan tema perayaan Lustrum ‘Bertumbuh Bersama Bangsa’. “Tema tersebut mengajak segenap sivitas akademika untuk selalu bersyukur, berbagi, dan terus berkontribusi bagi bangsa. Semangat ini terinspirasi dari para pendiri terdahulu yang masih kami hidupi hingga saat ini,” jelas Steve Ginting, ketua Lustrum XI Atma Jaya. (siaran pers)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda