Home / Humaniora / Anak Prasekolah di Kupang Berisiko Alami Gangguan Pertumbuhan

Anak Prasekolah di Kupang Berisiko Alami Gangguan Pertumbuhan

Ahmad Suryawan/Foto: Lintasntt.oom
Ahmad Suryawan/Foto: Lintasntt.oom

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Dokter Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ahmad Suryawan mengungkapkan anak prasekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup berisiko alami gangguan pertumbuhan.

“Kami dapatkan di dua taman kanak-kanak (TK) di Kota Kupang. Ketika masih bayi, mereka tumbuh dengan baik, tetapi begitu masuk usia sekolah, terjadi penurunan tinggi dan berat badan,” ujarnya kepada wartawan seusai menyampaikan hasil sementara penelitian bertajuk ‘Pengaruh Suplementasi dan Edukasi Nutrisi pada Kesehatan Ibu Hamil dan Tumbuh Kembang Janin, Bayi dan Anak Prasekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur’ di Kupang, Sabtu (11/11) malam.

Dokter Ahmad sebagai peneliti utama, bersama 20 dokter dari Universitas Airlangga, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Timur, IDAI Cabang NTT, dan dokter dari Kalbe Nutritionals-Morinaga melakukan penelitian tersebut sejak Juli 2017-Agustus 2018.

Baca Juga :  Kecelakaan di Jalan Frans Seda, Cewek Nyaris Tertabrak Mobil

Mereka meniliti tiga kelompok yakni ibu hamil dengan usia kehamilan 3-6 bulan, bayi usia 6-9 bulan, dan anak prasekolah usia 3-5 tahun. Dari 32 bayi yang diteliti, berat badan normal atau sesuai usia yakni 81,3% dan tinggi badan normal sebesar 93,8%. Akan tetapi begitu sang anak masuk TK, berat yang tadinya normal berkurang jadi 44,9%. Tinggi badan juga berkurang sampai 48,7%.

Menurutnya kondisi tersebut juga didapatkan hampir di seluruh wilayah Indonesia dan negara-negara berkembang. Selain itu kemampuan anak juga perlu mendapat perhatian seperti pemberian nutrisi dan edukasi sehingga anak yang berisiko tidak normal, akan berubah jadi normal di kemudian hari.

“Kita cari tahu faktor-fafktornya (yang menyebabkan gangguan pertumbuhan anak), dan setelah ketemu akan memberikan saran dan pendapat kepada pemerintah daerah untuk diatasi,” ujarnya.

Baca Juga :  Karo Humas: Gubernur NTT Kecapaian dan Istirahat

Dia menyebutkan masyarakat menyambut baik penelitian penelitian tersebut yang ditandai dengan mengikuti konseling tentang cara memberikan makan kepada anak mulai dari lahir hingga usia dua tahun.

“Untuk merubah ini, kita butuh data khusus lokal NTT. Jangan gunakan data di luar NTT untuk menangani anak-anak di daerah ini,” katanya.

Kepala Bappeda NTT I Wayan Darmawa berharap ke tahun mendatang, penelitian tersebut diperluas ke kabupaten lainnya di daerah itu. Rekomendasi dari penelitian ini menurut Dia, bakal dijalankan pemerintah daerah seperti dimasukan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018.
“Kita akan mengembangan pola-pola yang sejalan dengan rekomendasi dari hasil penelitian,” ujarnya. (sumber: mi/palce amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda