Home / Daerah / Anak Muda Kupang Gelar Festival Pangan di Lasiana

Anak Muda Kupang Gelar Festival Pangan di Lasiana

Kripik Solapora dari Sumba Tengah/Foto: Lintasntt.com
Kripik Solapora dari Sumba Tengah/Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Sebanyak 35 bahan pangan dari berbagai desa di Nusa Tenggara Timur dipamerkan di festival pangan di Pantai Wisata Lasiana, Kupang.

Festival digelar Komunitas Pikul, sebuah kelompk yang terdiri dari sejumlah anak muda yang selama bertahun-tahun mengkampanyekan kedaulatan pangan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan panghasil pangan kecil.

Kegiatan dengan tema ‘Pangan, Musik, Mengerti’ dimulai Sabtu (24/2).

“Festival ini mendorong masyarakat untuk kembali menggali kekayaan pangan lokal dan menjadi konsumen serta pengkampanye pangan lokal menjadi pesan kunci dari seluruh aktivitas kegiatan ini.” kata Direktur Perkumpulan Pikul Torry Kuswardono kepada wartawan di Kupang, Jumat (23/2).

Kegiatan ini juga mendorong kerjasama organisasi masyarakat sipil bersama pemerintah dan pihak swasta mendukung peningkatan kesejahteraan keluarga petani dan kemandirian khususnya petani perempuan dan petani muda di Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga :  Desember, Manutapen-Penkase Oeleta Terhubung Jembatan Gantung 'Kali Nyonya'

Torry menyebutkan ada tiga isu yang dihadapi dalam mendorong kedaulatan dan keberagaman pangan di NTT, yakni nyaris hilangnya memori kolektif mengenai pangan lokal komunitas. Kurang lebih 35 bahan pangan lokal dari serelia, kacang-kacangan dan umbi-umbian yang tidak diingat lagi oleh masyarakat di desa dan kota di NTT.

Selain itu, regenerasi petani yang lambat menjadi penyumbang masalah ketahanan pangan, dan rendahnya akses dan kontrol bagi perempuan desa terhadap tanah sebagai pelaku kunci yang memastikan ketahanan pangan berlangsung di desa.

Salah satu penghambat perempuan desa adalah faktor kultural seperti perempuan di sebagian besar etnis di NTT tidak mendapatkan hak waris. “Persoalan akses terhadap tanah dan ketersediaan air juga menjadi persoalan anak muda, sehingga mereka tidak bisa mengembangkan sektor ini sesuai dengan imajinasinya,” kata Torry.

Baca Juga :  Alumni GMNI NTT Berkumpul di Ende

Menurutnya penegakan regulasi yang berpihak pada keberagaman pangan lokal menjadi rekomendasi kebijakan yang dinilai signifikan dapat menumbuhkan kembali pasokan produksi pangan lokal.

Hal tersebut bisa dilakukan melalui penciptaan permintaan dari masyarakat perkotaan, yang secara tidak langsung, dapat meningkatkan kesejahteraan petani. (gma)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda