Home / Humaniora / Air Mata Tumpah di Perpisahan Sekolah Lapangan Nekamese

Air Mata Tumpah di Perpisahan Sekolah Lapangan Nekamese

Pemilik Sekolah Lapangan Nekamese, Fary Djemy Francis foto bersama Lulusan Sekolah tersebut, Rabu (4/5). Foto: Gamaliel
Pemilik Sekolah Lapangan Nekamese, Fary Djemy Francis foto bersama Lulusan Sekolah tersebut, Rabu (4/5). Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Air mata memang kerap menjadi bagian dari momen perpisahan. Seperti yang terjadi pada Acara Perpisahan dan Perutusan 13 lulusan SMK Sekolah Lapangan Nekames Angkatan Pertama, Rabu (4/5) malam.

Acara perpisahan dihadiri juga oleh puluhan siswa Angkatan kedua sekolah tersebut di Desa Oemasi, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang,

Salah seorang siswa bernama Febi Nurianti Taneno Funan menangis haru saat bersama seorang rekannya membacakan puisi perpisahan. Febi kembali meneteskan air mata begitu pemilik Sekolah Lapangan Nekames, Fary Djemy Francis memintanya berdiri di depan.

“Doa kami selalu mengiringi bapak untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi,” kata Febi sambil menangis. Rekan Febi yang duduk di kursi pun tak kuasa menahan air mata.

Mereka terharu karena dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah tersebut. Pasalnya sebelum bersekolah di sana, empat tahun lalu, mereka adalah siswa putus sekolah dari berbagai daerah.

Baca Juga :  Dugaan Komisi V DPR soal Penyebab Tragedi Trigana Air

Fary memahami kesedihan para lulusan tersebut karena selama empat tahun, mereka bersama-sama berbagai dalam kondisi suka maupun duka.

Tiga tahun mengenyam pendidikan teori dan praktek, dan satu tahun lagi diisi antara lain magang selama empat bulan di Hambalang, Jawa Barat.

Mereka juga menanam cabai dan kangkung sekaligus mempraktekan pengalaman di sekolah dan pengalaman yang diperoleh selama magang. Selama magang, siswa Sekolah Lapangan Nekamese melatih petani setempat tentang cara membuat pupuk organik Bokashi.

Menurut Ketua Komisi V DPR RI ini, angkatan pertama SMK Nekamese saat dibuka, memiliki 24 siswa. Namun dalam perjalanan berkurang menjadi 17 orang. Dari jumlah itu, empat siswa tidak mengikuti magang. Mereka juga memilih keluar karena akan melanjutkan studi.

Febi (kanan( Menyampaikan Pesan dan Kesan di Samping Pemilik Sekolah Lapangan Nekamese, Kamis (4/5). Foto Gamaliel.

Febi, salah satu Lulusan Menyampaikan Pesan dan Kesan di Samping Pemilik Sekolah Lapangan Nekamese Fary Francis, Kamis (4/5). Foto Gamaliel.

Dari 13 lulusan tersebut, empat siswa direkrut untuk menjadi asisten guru. Dua siswa lainnya masih akan mengikuti tes memperebutkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke jejang yang lebih tinggi tahun ini.

Baca Juga :  Puluhan Pendeta GMIT Diberi Bekal Pemberdayaan Ekonomi

“Dua orang jadi asisten guru dan diharapakan akan menjadi guru. mereka dikuliahkan,” ujarnya.

Dua orang lagi, akan menanti giliran untuk kuliah pada 2017. Sisa 9 orang lainnya akan meninggalkan Nekamese pada Kamis (5/5) kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Mereka yang kembali ke kampung halamannya, diminta langsung mempraktekan pengetahuan dan keterampilan yang diperolah selama di bangku sekolah seperti membangun kebun atau kegiatan wirausaha lainnya. Pembukan wirausaha di kampung, juga harus dilakukan oleh empat orang yang telah direkrut menjadi asisten guru tersebut. (gma)

 

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda