Home / Nasional / Ada Pentas Anak Rote di Tasikmalaya

Ada Pentas Anak Rote di Tasikmalaya

Anak-anak membawa bendera merah putih di desa pesisir pulau Ndao, Rote, Nusa Tenggara Timur, Kamis (13/8). Minimnya lahan bermain anak di daerah pesisir tersebut membuat mereka memanfaatkan pantai dan dermaga sebagai tempat berkumpul dan bermain. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Anak-anak membawa bendera merah putih di desa pesisir pulau Ndao, Rote, Nusa Tenggara Timur, Kamis (13/8). Minimnya lahan bermain anak di daerah pesisir tersebut membuat mereka memanfaatkan pantai dan dermaga sebagai tempat berkumpul dan bermain. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Bagikan Halaman ini

Share Button

Tasikmalaya–Pentas seni hasil kerja sama dua negara yang dilakukannya melalui pentas teater Australia dan teater Satu Lampung (Indonesia) berjudul The Age of Bones (Zaman Belulang) yang digelar di Gedung Kesenian Tasikmalaya, Sabtu (15/10) malam.

Cerita tersebut mengangkat kisah nyata tentang perjuangan seorang anak untuk kembali ke pangkuan orang tuanya setelah mereka terdampar di laut demi mendapatkan ikan untuk ibunya.

Sutradara The Age of Bones Iswadi Pratama mengatakan, pergelaran seni teater dari Australia dan Indonesia berawal dari riset penulis skenario Sandra Thibodeaux selama sepuluh tahun dan pementasan akan memberikan kolaborasi antara musik, film, wayang, dan seni peran dalam satu kesatuan.

“Pentas kali ini tidak bisa bilang baru, tapi setidaknya ini adalah alternatif untuk khazanah seni pertunjukan agar semua masyarakat bisa melihat bagaimana kisah nyata yang begitu dekat dengan kehidupan kita agar bisa menghibur, tapi juga tetap merangsang daya kritis yang tentunya membangun karena cerita ini mengangkat cerita nyata seorang anak Indonesia usia belasan asal Pulau Rote terdampar di laut demi mendapat ikan untuk ibunya. Namun sejak ia berperahu itu, tak kunjung pulang hingga belasan tahun lamanya dan dia ditangkap oleh orang Australia dengan dihukum penjara. Akan tetapi, dia tidak tahu lagi bagaimana kabar kedua orangtuanya hingga ayahnya meninggal jua,” katanya.

Baca Juga :  Ini Kronologi Temuan Pesawat Tanpa Awak di Sumba

Iswadi mengungkapkan, pementasan tersebut di Indonesia sendiri sudah mementaskan teater berada di Taman Budaya Lampung dan Universitas Padjajaran Bandung dan pemilihan pementasan di Tasikmalaya didasari oleh antusiasme dan apresiasi masyarakat terhadap teater masih terbilang tinggi.

“Kami melihat Tasikmalaya merupakan salah satu tempat yang memiliki kegiatan teater dan puisi terbaik di Indonesia, karena semua orang dari mulai SD sampai Mahasiswa dan orangtua senang mementaskan peran panggung dan juga membaca puisi hingga lainnnya,” ujarnya.

Penulis naskah The Age of Bones, Sandra mengatakan, pementasan ini mengisahkan seorang bocah asal Pulau Rote NTT yang hidup dari keluarga sederhana namun mengalami nasib naas karena harus terdampar ketika mencari ikan. Si bocah yang dinamai ‘Ikan’ itu malah ditangkap oleh pihak keamanan Australia hingga mengalami pemenjaraan.

“Cerita dalam teater ini berusaha mengungkap apa yang terjadi pada Ikan dari kepergiaannya, penahanannya hingga kepulangannya ke rumah karena yang ingin disampaikan adalah sisi humanis, pentingnya keluarga baik dari pandangan Australia dan juga Indonesia,” jelasnya.

Sandra mengatakan, pementasan teater ini juga mengikutsertakan seniman dari Indonesia dan Australia yang dilakukannya secara kolaborasi yang menunjukan seni sebagai pemersatu, tanpa pandang latar belakangnya dan di sisi lainnya menilai kesulitan menyelenggaran teater di Indonesia adalah menyesesuaikan naskah dengan budaya setempat.

Baca Juga :  Warga Pantai Baru Kembalikan 8 Penyu ke Laut

“Kesulitan utama teater adalah agar naskahnya bisa diterima masyarakat Indonesia akan tetapi disini budayanya berbeda dengan dengan di Australia, misalnya dari segi humornya juga tentu berbeda. Jadi perlu ada adaptasi agar bisa disesuaikan,” paparnya.

Dalam pementasan the Age of Bones, Sandra menyebutkan, pihaknya telah menggunakan beberapa simbol untuk menunjukan makna karakter terutama dalam penggunaan helm selam pada polisi yang menangkap Ikan dan hakim menggunakan pakaian gurita. Akan tetapi, simbol polisi bodoh di Australia adalah aparat mengenakan helm selam dan pakaian gurita pada hakim menandakan jaringannya yang menggurita guna mencurangi peradilan.

“Saya mengakui teater ini juga merupakan kritik bagi pengadilan di Australia yang kurang menjunjung tinggi HAM. Karena, pementasan yang dilakukannya itu kisah nyata terutama diperankan oleh pemaian yang sama memerankan dalam kejadian tersebut dan itu juga dipertontonkan bagi masyarakat agar pengadilan yang dilakukannya itu harus tegas menjungjung tinggi hak asasi manusia,” ungkapnya. (media indonesia)

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda