Home / Daerah / 50 Pekerja Gereja Belajar Bertani di Sekolah Lapangan Nekamese

50 Pekerja Gereja Belajar Bertani di Sekolah Lapangan Nekamese

Peserta Pelatihan Foto Bersama Pendiri Sekolah Lapangan Nekamese Fary Francis, dan 
Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian PUPR, Imam Santoso. Foto: Lintasntt.com
Peserta Pelatihan Foto Bersama Pendiri Sekolah Lapangan Nekamese Fary Francis, dan Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian PUPR, Imam Santoso. Foto: Lintasntt.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Sebanyak 50 pekerja gereja terdiri dari majelis, koster, diaken, dan pengajar mengikuti pelatihan menjadi petani di Sekolah Lapangan Nekamese, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (7/9).

Kegiatan itu merupakan bagian dari misi gereja untuk mendorong pengembangan ekonomi masyarakat di desa-desa di daerah itu. Pekerja gereja tersebut bergabung dalam Komunitas Pendeta Suka Tani (Kompas Tani) akan menjadi motivator di masyarakat.

Mereka berasal dari berbagai kabupaten di NTT mempelajari budidaya tanaman hortikultura di kebun contoh milik sekolah pertanian tersebut selama tiga hari.

“Mereka akan memberikan contoh kepada masyarakat memanfaatkan lahan untuk pertanian,” kata Pendiri Sekolah Lapangan Nekamese Fary Francis pada penutupan pelatihan tersebut.

Kegiatan dengan nama ‘Pelatihan Kompas Tani ke-IV’ itu sudah berjalan sejak 2015 dan berhasil menciptakan lahan-lahan pertanian di desa-desa, dan pada 2018 memasuki tahun ke-4, dengan tema ‘Bertemu Tuhan di Kebun’.

Baca Juga :  Korem 161 Wirasakti Kupang Diancam Bom

Pada pelatihan 2017, sejumlah pendeta dari Timor Leste bergabung menjadi peserta pelatihan. Peserta antara lain berasal dari Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, dan Malaka.fary f1

“Ada jemaat yang dulu bekerja sebagai TKI di Malaysia, memilih pulang kampung dan menjadi peserta pelatihan karena mau mengolah lahan mereka,” ujarnya.

Menurutnya Sekolah Lapangan Nekamese hanya mendidik siswa dari kampung. Mereka belajar cara bercocok tanam untuk selanjutya kembali ke kampung menjadi petani. Ciri khas lainnya ialah siswa harus punya niat untuk bertani, pembelajaran terdiri dari 70% praktek di lapangan dan 30 persen teori.

“Siswa di sini masuk asrama dan setelah tamat akan dikirim ke daerah lain untuk belajar sebelum pulang ke kampung masing-masing,” ujarnya.

Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian PUPR, Imam Santoso mengatakan pihaknya membantu pembangunan embung di desa-desa di NTT untuk menampung air di musim hujan. Air akan dimanfaatkan petani untuk mengairi tanaman pertanian dan ternak di musim kemarau.

Baca Juga :  Beras dan Rokok Penyumbang Terbesar Kemiskinan di NTT

“Air di embung akan bertahan antara 2-3 bulan sebelum kembali kering,” kata Imam Santoso.

fary3Pembangunan embung merupakan salah satu solusi mengatasi krisis air di desa-desa di NTT selama kemarau yang berlangsung selama delapan bulan. Embung dibangun dengan ukuran 100 x100 meter dengan kedalaman dua meter, mampu menampung air sebanyak 20.000 meter kubik.

Seusai pelatihan, peserta diberi bantuan irigasi dari Kementerian PUPR, dan benih bawang merah ‘Lokananta’, produksi East West Seed Indonesia
untuk dibudidayakan di daerah mereka.

Varietas bawang merah tersebut diyakini yang pertama di dunia yang memiliki keunggulan mampu berproduksi dengan baik meski ditanam pada musim kering maupun hujan.

Pelatihan ditutup dengan ibadah yang dipimpin Pendeta Sally Boelan dari Sinode GMIT. (gma)

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda