Home / Humaniora / 25 Alumni Australia Bantu Eliminasi Malaria di Indonesia Timur

25 Alumni Australia Bantu Eliminasi Malaria di Indonesia Timur

25 Alumni Short Course Malaria Australia Foto Bersama saat Wita ke Ocean Road.. Foto: Dok
25 Alumni Short Course Malaria Australia Foto Bersama saat Wita ke Ocean Road.. Foto: Dok

Bagikan Halaman ini

Share Button

Makassar–Sebanyak 25 alumni Short Course ‘Malaria Prevention and Treatment for Infants, Children and Pregnant (Pencegahan dan Pengobatan Malaria untuk bayi, anak, dan ibu hamil)’ Australia 2018 mulai bekerja membantu pemerintah dalam melakukan eliminasi malaria di lima provinsi dengan kasus malaria terbesar di Indonesia timur.

Lima provinsi itu ialah Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Dari lima provinsi tersebut angka insiden (Annual Parasite Incidence/API) malaria per 1.000 penduduk tertinggi terdapat di Papua, Papua Barat, dan NTT.

Konsulat Jenderal Australia di Makassar, Sulawesi Selatan Richard Matthews mengatakan 25 alumni tersebut
berasal dari berbagai bidang telah dibekali pengetahuan dan latihan melalui pembelajaran partisipatif di Universitas Melbourne Australia pada Maret 2018.

Mereka lolos melalui tahapan seleksi ketat dan panjang oleh Kedutaan Besar Australia.

Peserta kursus singkat juga berkunjung laboratorim Burnet Institute dan The Nossal Institute for Global Health. Mereka bagian dari 120 alumni program studi singkat malaria yang digelar Pemerintah Australia sejak 2016-2018.

“Alumni ini tersebar di seluruh Indonesia timur dan kapasitas mereka sudah bertambah. Semuanya harus menghasilkan proyek dan itu kebiasaan dalam short course yang saya belum melihat sebelumnya dilakukan short course yang lain,” kata Richard Matthews saat menyampaikan sambutan pada Post Course Workshop Malaria Prevention and Treatment for Infants, Children and Pregnant di Makassar, Senin (6/8/2018)

Baca Juga :  Siapa Viktor Laiskodat? (2)

Kegiatan ini dihadiri dinas kesehatan Papua, Papua Barat, NTT,Kementerian Keshatan, Kedutaan Besar Australia, dan Unicef.

Puluhan alumni tersebut sedang mengerjakan enam proyek dalam rangka mengeliminasi malaria yakni Kisah Inspiratif Seputar Eliminasi Malaria (Kiss Me), Eliminasi Maria oleh Masyarakat (Emas), Bersama Sekolah Cegah Malaria (Bakira), Bebas Malaria Perusahaan (Bela Perusahaan), Cegah Malaria dengan Survalians Migrasi (Cemara Sensasi), dan Pendampingan Rumah Kendali Malaria (Damar Lima).

Richard mengatakan sejak lama Australia dan Indonesia bekerjasama meningkatkan kapasitas profesional di bidang kesehatan sebagai bagian dari tujuan membantu memberikan solusi dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia. Untuk malaria, para alumni membantu pemberantasan malaria hingga Indoensia bebas malaria pada 2030.

Smentara itu Lisa Davidson dari Burnet Institute Australia mengatakan dari 120 orang yang terpilih mengikuti program tersebut telah merancang 29 proyek. “Banyak dari proyek ini masih diimplementasikan dan menunjukkan keefektifan untuk melakukan perencanaan dan penerapan,” kata Lisa.

Menurutnya peserta tidak hanya berasal dari dinas kesehatan tetapi juga bidang keahlian lain seperti wartawan dan Bappeda agar saling bertukar pengalaman dan ide mengenai pengobatan dan eliminasi malaria.

Baca Juga :  Pembunuh Angeline Berasal dari Sumba Timur

“Target dari studi ini melihat malaria tidak sebagai isu kesehatan tetapi melihatnya secara holistik untuk melakukan pemberantasan malaria” ujarnya.

Kasus Malaria Cenderung Turun

Kasubdit Malaria, Kementerian Kesehatan Nancy Dian Anggraeni yang juga berbicara pada kegiatan tersebut menyabutkan sejak 2011-2017 kasus malaria di Indonesia cenderung menurun.

Pada 2011 dilaporkan 422.447 kasus malaria dengan API 1,75 per 1.000 penduduk, dan pada 2017 turun separuh menjadi 261.171 kasus dengan API 0,9 per 1.000 penduduk. “Namun masih ada pekerjaaan rumah karena malaria masih cukup besar di tiga provinsi di Indonesia timur,” ujarnya.

Menurut Dia, Indonesia timur menyumbang kasus malaria sampai 90%, dan 70% kasus tersebut disumbangkan dari Papua, Papua Barat, dan NTT. “Kalau progres di NTT baik, mudah-mudahan tahun berikutnya semakin baik,” tambahnya.

Untuk ibu hamil yang mengidap malaria berjumlah 2.650 orang yang 66%nya berasal dari Papua, dan balita penderita malaria berjumlah 49.976 orang, 19% di antaranya disumbang dari Papua. Untuk mencapai eliminasi malaria nasional pada 20130, Kementerian Kesehatan fokus melakukan eliminasi malaria di Indonesia timur. “Sudah ada budget untuk daerah-daerah itu dari APBN dan juga dari Global Fund,” katanya. (sumber: media indonesia/palce amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda