Home / Lingkungan / 17 Negara Teken Deklarasi Bali Clean Energy Forum

17 Negara Teken Deklarasi Bali Clean Energy Forum

Kincir/Foto: bceforum.org
Kincir/Foto: bceforum.org

Bagikan Halaman ini

Share Button

Denpasar–Bali Clean Energy Forum yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan International Energy Agency (IEA) telah melahirkan deklarasi komitmen pengembangan energi terbarukan. Dari 26 negara partisipan, hanya 17 negara yang meneken deklarasi tersebut usai Ministerial Meeting.

Menteri ESDM Sudirman Said mengungkapkan, pejabat dari 26 negara yang hadir dalam Ministerial Meeting di Kompleks Nusa Dua Convention Center, Bali pada Kamis (11/2/2016), terdiri dari Amerika Serikat (AS), Australia, Uni Eropa, Sri Lanka, Papua Nugini, Timor Leste, Arab Saudi dan negara lainnya.

“Lewat forum ini Indonesia ingin memploklamirkan diri mengambil posisi pemimpin menjadi pendorong revolusi bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Walaupun harga minyak dunia sedang rendah, pasti hanya temporer. Akan ada titik baliknya, dan kita mesti membangun energi terbarukan,” jelas Sudirman.

Baca Juga :  Sidang Gugatan Pencemaran Laut Timor Mulai Digelar di Australia

Sayangnya, Bali Clean Energy Forum Ministerial Declaration hanya ditandatangani 17 negara dari 26 negara partisipan. Sementara 9 negara lain belum sepakat dengan deklarasi tersebut dengan berbagai alasan.

Sebanyak 17 negara itu, antara lain, Indonesia, Italia, Switzerland, India, Hungaria, Denmark, Australia, Prancis, Selandia Baru, Timor Leste, Amerika Serikat, Papua Nugini, Swedia, Finlandia, Spanyol, Malaysia dan Sri Lanka.

Sudirman mengaku, Ministerial Meeting bersifat sukarela, artinya tidak mengikat. Pejabat 26 negara datang dan mengambil sikap secara sukarela. Menurutnya, 9 negara ini tentu mempunyai pertimbangan menolak deklarasi tersebut.

“Draft sudah lama disodorkan, kita tidak mengharapkan semua ikut serta karena ini sifatnya betul-betul sukarela. Teks (deklarasi) tidak mengikat, ini hanya pernyataan sikap bersama. Kita tidak melihat sesuatu yang serius 9 negara tidak ikut tandatangan, karena pertimbangannya mungkin belum nyaman dengan teks atau belum punya waktu. Tidak ada masalah dengan itu,” paparnya. (sumber:liputan6.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda